Judul: Pesantren Dongen: Melipur Hati, Menikmati Kisah, Mendulang Hikmah
Penulis: Awang Surya
Penyuting: Asep Sofwan
Pewajah Isi: Siti Qomariyah
Desain Sampul: IGGrafix
Penerbit: Penerbit Zaman
Tahun: Cetakan 1, 2011




Santri di pesantren dongeng ini seluruhnya ada tiga orang: Sarimin, Madris, dan Padri. Ketiganya pula yang setiap hari mengujungi Mbah Sholeh, pendongeng yang mereka panggil Kiai. Padahal, bagi orang-orang kampung Bulusari, Mbah Sholeh tidak lebih dari penduduk desa biasa, bukan ustad apalagi kiai. Hanya saja Mbah Sholeh mempunyai musala di sebelah rumahnya.
Uniknya, Mbah Sholeh selalu membacakan surah-surah pendek ketika menjadi imam salat jamaah di musalanya. Sehingga anak-anak kampung Bulusari memberi julukan padanya Imam Qulhu, ayat pertama di surah Al Ikhlas. Sebab itulah ayat yang paling sering dibacakan Mbah Sholeh. Walaupun pada dasarnya Mbah Sholeh juga mengajari kepada siapa saja yang ingin belajar membaca Al Quran padanya. Tapi dibandingkan ustad-ustad di desa Bulusari yang rata-rata jebolan pesantren kesohor, Mbah Sholeh jelas bukan kelasnya. Namun iya itu, tetap saja ketiga santrinya itu memanggilnya dengan sebutan Kiai.
Bukan tak beralasan, selain belajar baca Al Quran, tarikh, nahwu, fiqih, dan kitab-kitab kuning, ketiga santrinya selalu saja mendapat pelajaran berharga dari dongeng-dongengnya dari sang Kiai mereka. Sebab, seusai mendongeng, Mbah Sholeh selalu menjelaskan makna dongengnya. Jika suatu kali dongengnya terlalu panjang hingga maknana tidak sempat dijelaskan, pembahasannya disambung di pertemuan berikutnya. Dalam dongengnya pula, Mbah Sholeh selalu mengutip ayat-ayat Al Quran dan hadist untuk memperkuat pesan yang disampaikan. Karena itulah, Sarimin, Madris, dan Padri menyebut kegiatan mereka: Pesantren Dongeng.
Ada beberapa banyak dongeng yang ditutur Mbah Sholeh di dalam buku karya Awang Surya ini. Kebanyakannya pun bermakna tentang kehidupan sehari-hari. Misalnya tentang seorang pemuda yang dipenjara oleh raja yang berkuasa di masanya. Si pemuda merasa sangat menderita di penjara, baginya dunia ini seakan-akan menjadi sempit. Hingga setiap harinya ia terus mengeluh, dan menghitung hari hingga saatnya bebas. Akibatnya, si pemuda malah stres sebab waktu terasa lama berjalan.
Suatu hari pun di dalam penjara, si pemuda bertemu dengan orang tua yang bijaksana di sana. Singkat kata, si pemuda ingin sekali belajar ilmu agar bisa terbang. Memahami maksudnya, si orang tua itu tahu bahwa pemuda itu belajar ilmu tebang agar bisa keluar dari penjara. Lantas, si orang tua memberinya ilmu dengan syarat kesabaran dan tidak mengeluh. Si pemuda pun setuju, hingga hari-harinya kini dihabiskan untuk belajar ilmu terbang itu. Selang hari, berganti waktu, tidak juga dirasakan perubahan pada pemuda tersebut. Ingin sekali ia protes, tapi si pemuda ingat dengan syaratnya, bersabar dan tidak boleh mengeluh.
Hingga masa pun berlalu lama, tidak juga ada yang bertambah, si pemuda tetap tidak bisa terbang. Maka pada hari itu, si orang tua tidak terlihat di tempat biasanya si pemuda mempelajari ilmunya. Dan ketika dikunjungi ruang tahanan orang tua tersebut, ia malah sedang santai-santai santai di ruangnya. Kemudian si pemuda yang heran, bertanya mengapa ia tidak mengajarinya hari ini. Si orang tua pun menjawab, si pemuda tidak butuh ilmu terbang lagi, sebab masa tahanannya sudah habis, pemuda itu bebas. Alangkah bahagia si pemuda, ia menjalani masa tahanan tanpa disadarinya sedikitpun.
Mbah Sholeh menjelaskan pesan dalam dongeng tersebut adalah kita tidak perlu menghitung hari, atau menghabiskan waktu dengan kegelisahan. Karena waktu akan terasa lambat ketika sedang susah, dan akan terasa cepat ketika senang. Padahal pada nyatanya, jatah waktu tetap berjalan 24 jam per hari, 7 hari per minggu, dan 6 bulan per tahun. Semua orang mememiliki jatah yang sama, hanya cara kita saja yang beda dalam memanfaatkan waktu itu.
Selain kisah itu, ada puluhan dongeng lain yang disajikan di dalam buku ini. Termasuk dongeng yang berpesan soal sedekah, iri hati, menanggapi orang yang benci pada kita, juga segala permalahan manusia dalam menjalani kehidupan. Penuh pencerahan, Awang Surya benar-benar sukses dalam mendidik pembacanya dengan karya-kayanya yang mengalir santai. Buku Pesantren Dongeng karya Awang Surya ini memang benar-benar melipur pencerahan hati, dapat menikmati humor di dalam kisahnya, serta mendulang hikmah hingga akhir lembarnya.

Bandung, 03 Febuari 2014

9 komentar:

  1. Jadi pengen beli buku ini. Kadang dongeng jenaka cukup untuk ingatin kita tentang hal-hal kecil yang sebenarnya penting.

    ReplyDelete
  2. Hahaha, Pak Awang itu jebolan teknik unibraw, way..

    isinya cukup bagus, cuma karena disaji dalam bentuk seri aja, makanya terasa bosan kalo dihabisi dalam sehari. padahal hikmah-hikmah dari dongengnya, bikin udah bikin ketagihan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh ai, mana kenal siapa beliau. Memet mungkin kenal. :d

      Delete
    2. Mana kenal dia, entah angkatan berapa pun si bapak, umurnya aja udah 46.. :-d

      Delete
  3. Waktu kecil saya menemukan di lemari ada buku novel "Guruku Orang-orang dari Pesantren". Novel ini berlatar belakang pesantren Nahdlatul Ulama dilihat dari tokoh-tokoh yang dibicarakan seperti KH Idham Chalid. Saya juga tidak ingat dari mana menemukan buku itu dan ke mana bukunya sekarang, tapi novelnya sarat dengan nilai-nilai dan penggambaran suasana ceritanya begitu hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sepertinya buku yang sudah sekali ya bang.
      Kalau abang mau, saya bisa bantu untuk nyari-nyari buku lama di tempat orang-orang jual buku bekas di sini.. :-d

      Delete
  4. baca resensi buku ini, kayaknya buku Mbah Sholeh ini semacam buku kmpulan dongeng Abu Nawas ya??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak, bukan bang. ini beda.
      ceritanya tiap hari itu ada aja masalah sama tokoh-tokoh di buku ini. Nah, penyelesaiannya ya si mbah soleh mendongeng. dari dogeng-dogeng mbah soleh ini lah nanti ada maknanya sendiri. pokoknya beda, lucu, kreatif, dan inspiratif. :d

      Delete

 
Top