Judul: Entrok
Penulis: Okky Madasari
Ilustrasi dan Desain Sampul:
Restu Ratnaningtyas
Penerbit: PT Gramedia
Pustaka Utama
Tahun Terbit: Jakarta, April 2010
ISBN: 978 - 979 - 22 - 5589
- 8
Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja
leluhur. Melalui sesajen Marni menemukan
dewa-dewanya, memanjatkan harapan. Tidak pernah ia mengenal Tuhan yang datang
dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri pula Marni mempertahankan hidup. Menukar
keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Mulai dari menjadi kuli pasar sewaktu ia
masih kecil, hingga menjadi penjual keliling. Setiap tahun, rejekinya kian
bertambah, mempunyai rumah besar, ladang tebu yang luas, sehingga di masa rezim Orde Baru, kediaman Marni selalu menjadi sasaran empuk bagi pengemis berseragam loreng dan
pejabat kelurahan lainnya.
Anaknya Rahayu, selalu saja tidak bisa terima dengan kebiasaan
Marni yang masih menyembah leluhur. Merasa malu di sekolah setiap guru menerangkan
pelajaran agama, bahkan sampai beredar rumor bahwa Marni memelihara tuyul dalam
meraih kekayaannya. Bertahun-tahun hingga Rahayu menjadi mahasiswi di luar kota
pun, perseteruan tersebut tidak pernah terelakkan. Bagi Marni, putri tunggalnya
adalah manusia yang tidak memiliki jiwa. Sedangkan bagi Rahayu, Marni adalah
manusia yang berdosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah
ada titik temu.
Lalu kedatangan tentara setiap bulannya, pejabat kelurahan
tiap minggunya, apalagi setiap menjelang
pemilu kala itu. Mereka datang mengancam, menganggu, dan bahkan merusak jiwa.
Menjadi penguasa masa, dan memainkan kuasa sesuai keinginan sendiri. Mengubah
warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung
di mana-mana.
Marni dan Rahayu, dua generasi yang tidak pernah bisa
mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka.
Keduanya, sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama
melawan tanpa senjata.
***
Novel Entrok karya Okky Madasari ini menceritakan bagaimana
perlakukan penguasa di masa rezim Orde Baru secara berani. Konflik yang
ditampilkannya pun cukup menyentuh, karena penyajiannya yang ternilai jujur di
setiap paragraf yang silih beganti. Di zaman-zaman menentukan perjalanan
sejarah negeri ini, penulis terbilang cemerlang berhasil mengungkapkan lika-liku
dan sepak terjang kehidupan masyarakat yang kompleks di masa itu. Melalui peselisihan antara
ibu dan anak, penulis sukses membawa saya hingga titik akhir buku novel setebal
282 halaman ini.
Meskipun ada beberapa bagian yang memaksa saya membacanya berkali-kali, sebab hampir setiap istilah sehari-hari yang ditulis menggunakan bahasa
Jawa. Meskipun begitu, itu bukan merupakan kekurangan karya Entrok ini,
melainkan sebuah pengetahuan yang berharga bagi saya, seperti judulnya sendiri entrok yang baru saya tahu berarti beha/kutang (pakaian
dalam wanita).
Awal gustus tahun 2013 silam, saya mendapat kabar bahwa, novel
Entrok ini sukses diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Meskipun pada awalnya
Okky Madasari selaku penulisnya mengaku khawatir dangan hasil terjemahan
karyanya ini. Kekhawatirannya cukup berasalan, penulis kerap menemukan sejumlah
novel yang diterjemahkan ke bahasa asing justru menjauhkan dari kualitas novel
itu sendiri. Namun, akhirnya Okky
Madasari menganggap kekhawatirannya tersebut sebagai tantangan agar karyanya
bisa menjangkau masyarakat luas.
Bandung, 02 Febuari 2014

0 komentar:
Post a Comment