Judul:
Aku Melawan Teroris
Penulis:
Imam Samudra
Penerbit:
Jazera
Cetakan:
1, September 2004
Tangismu wahai bayi-bayi tanpa kepala, dibentur di tembok-tembok
Palestina. Jeritmu wahai bayi-bayi Afghanistan, yang memanggil-manggilku tanpa
lengan. Dieksekusi bom-bom jahannam, milik setan Amerika dan Sekutu, saat ayah
bundamu menjalani Ramadhan! Ini aku, saudaramu! Ini aku, datang dengan secuil
bombing. Kan kubalaskan sakit hatimu, kan kubalaskan darah-darahmu. Darah dengan
darah, nyawa dengan nyawa, Qishash!!
Itulah sepenggal puisi Imam Samudra. Bait-bait yang
mereflesikan apa, mengapa, kepada siapa, dan bagaimana ia melawan. Dari balik
jeruji besi, sembari menunggu proses eksekusi atas ganjaran pidana mati, ia
menorehkan catatan-catatan harian. Sebagai sebentuk pertangguhjawaban kepada
publik atas apa yang ia dan kawan-kawannya lakukan di Bali pada 12 Oktober
2002.
Apa yang ia dan kawan-kawannya lakukan di Bali, tak lain
adalah bentuk reaksi perlawanan terhadap penindasan; Amerika dan sekutunya.
Bangsa yang oleh Amnesti Internasional dikarunia ‘penghargaan’ sebagai
pelanggar HAM terburuk selama 50 tahun terakhir. Bangsa yang oleh Human Right
Report 2002 dan Human Right Watch dinobatkan sebagai pelanggar HAM terburuk dan
terberat di dunia. Bangsa yang publik umum memahami sebagai biang teroris.
Karenanya, buku ini berjudul, ‘Aku Melawan Teroris’.
“Saya melakukan jihad pada titik-titik ikhtilaf,” demikian
tulisannya. Sebuah ungkapan atas sebuah pilihan jalan dari ragam jalan
perjuangan yang ditempuh oleh umat Islam. Ia sadar bahwa langkahnya kontrovesi.
Meski demikian, ia menyakinkan jalan yang ditempuhnya. Dan keyakinan itu,
didasarkan atas sebuah model pemahaman islam yang ia anut.
***
Buku ini adalah cenderamata dari salah seorang teman yang
sekarang mendekap di balik tembok tahanan. Jauh, sangat lama, bahkan kabarnya pun saya
tidak pernah disentuhnya lagi. Mungkin dari buku ini juga, saya bisa pahami,
kenapa teman saya itu bisa terlibat dalam penyergapan Densus 88 silam di Sumut.
Sangat membakar, bahkan saya dibuat semakin benci dengan kekejaman yang terjadi
di timur tengah sana. Kobaran jihad yang dituang Imam Samudra dalam buku ini,
bukan sekedar membangkit, tetapi juga memancing api yang lama ditinggalkan
asap.
Tidak juga menutup kemungkinan, buku ini sepertinya juga terlalu
fanatik, lumayan berbahaya di kalangan orang yang mudah terprovokasi. Sebab Imam
Samudra cukup lincah dalam merangkai kata-kata semangatnya. Terkesan mudah
dimengerti, disaji dengan ringan, ala pergaulan anak-anak muda pada umumnya.
Saya sendiri, ada yang setuju, ada pula bagian yang tidak saya dalami. Takutnya
iya itu, panas dan hilang kontrol dalam menyingkapi kekejaman bangsa barat terhadap negara-negara bermayoritas muslim. Walaupun pada dasarnya, alasan buku ini tulis adalah
mengungkapkan isi hati sang penulis tentang dasar apa yang dilakukannya di Bali
silam. Menurut saya, buku ini cukup untuk membangkitkan singa-singa islam yang
terjebak di zaman serba barat ini. Allahu
Akbar! Jihad fi sabilillah!
***
Ada yang menarik tentang buku ini. Lukman
Ba’abduh yang selama ini dikenal sebagai seorang ustad yang berhaluan salafy, menulis
buku ‘Mereka Adalah Teroris’ untuk membantahan atas buku ‘Aku Melawan Teroris’
ini. Dalam perkembangannya, buku tulisan Ba’abduh itu memancing keluarnya buku ‘Siapa
Teroris Siapa Khowarij’ yang ditulis Abduh Zulfida Akaha, penerbit Pustaka Al
Kautsar.
Seolah tak terima dengan buku bantahan Abduh Zulfida, Lukman
Ba’abduh kemudian membuat buku bantahan sebanyak dua jilid, yang masing-masing
berjudul ‘Menebar Dusta Membela Teroris Khowarij’ dan ‘Mengidentifikasi
Neo-Khowarij’. Dan lalu Pustaka Al Kautsar pun merilis buku baru lagi, berjudul
‘Belajar Dari Ulama Salafy’ (BAUS) yang merupakan buku bantahan dari ‘Menebar
Dusta Membela Teroris Khowarij’ (MDMTK).
Kabarnya juga, perdebatan diantara dua ustad tersebut belum
pernah berujung pada dialog secara empat mata. Sebab dalam setiap dialog yang
diadakan, Lukman Ba’abduh tidak pernah hadir.
Bandung, 18 Febuari 2014

Rasa-rasanya aku masih ga percaya ada teroris selain dari 'teroris'. Sama dengan tidak percaya dengan negara karena ada 'negara' di dalamnya.
ReplyDeleteWallahu 'alam, way..
Deleteini cuma tentang buku.
teror tetap teror, fasis tetap fasis.
air lawan api, angin dan tanah kadang dilupakan.
begitu juga warna bening dan putih, juga kilat dari cahaya.
:>)
kata-kata ko satu juta kali lebih cepat daripada aku. $-)
Deletehahaha,
Deletesatu juta kali pula, padahal sekotek pun gak.
kalo gitu... kk gak usah baca aja deh, takutnya tahun depan nama kk pula yang terpampang di headline media (p)
ReplyDeletehehehe, baca aja kak. kemaren sempat heboh buku ini. :-d
Delete