Ngomongin
soal buku yang paling best-best, sepertinya sedikit membuat saya nyengir tak karuan. Pasalnya,
tidak mungkin ada buku yang bisa saya tamatkan, jika bukan sebab buku tersebut
menarik perhatian saya. Malahan ada buku yang sudah saya paksa-paksa untuk
membacanya, tetap saja ujung-ujungnya itu buku cuma buat pajangan. Apalagi kalau
bukunya tebal, tidak jarang saya menyulapnya menjadi bantal, meja, bahkan ada
juga yang saya gunakan sebagai tisu. Tidak.. tidak.. saya hanya bergurau,
tidaklah juga saya sekejam itu.
Mungkin
jika mengingat atau mengenang, hmm... sungguh! Saya bingung harus memilih buku
mana yang paling joss di antara buku-buku yang pernah saya baca. Beruntungnya
boleh memilih tujuh! Coba kalau dimintanya cuma satu, ah, saya pasti akan
menggabungkan semua buku-buku tersebut menjadi satu judul. Melepas satu per
satu covernya, lalu digabungin jadi satu buku. Ketika saya bingung memilih
judulnya, saya pun akan mengambil satu per satu huruf tiap bukunya, kemudian
jadilah buku dengan judul A-Z. Ya, sebaiknya memang harus ada tujuh, tentu saja
tujuh buku selain Tesaurus karangan Wahyu Untara yang selalu saya bawa ke
mana-mana.
1. La Tahzan, Penulis : DR. Aidh al-Qarni
- Penerbit : Qisthi Press
Buku karya DR.
Aidh al-Qarni ini cukup menginspirasi
bagi semua orang. Tidak heran jika hampir semua makhluk mengiyakan pendapat
saya, bahwa buku ini sebagai obat galau. Pertama kalinya saya baca buku ini di
rumah saya sendiri. Kala itu memang tidak ada yang menarik di sana, selain
koran dan majalah-majalah olahraga. Walaupun ada, itu pun buku-buku ibu saya
yang berbahasa Arab. Buku koleksi ayah saya pun tentang pertanian, industri,
dan politik yang angker. Dan seketika itu pula, saya pun langsung jatuh cinta
pada buku ini sejak membuka halaman pertamanya. Mengenangnya lagi, ketika saya
galau karena pacar saya waktu itu, buku ini juga yang manawarkan cinta yang
hakiki pada saya. La tahzan.. la tahzan.. sebab pada dasarnya pun saya sungguh
memahami dua suku kata tersebut. La takhaf wa la tahzan, inallaha ma ana.
2. Temanku Teroris, karya: Noor Huda Ismail - Penerbit:
Hikmah
Wow! Judulnya terkesan apa..
gitu! Tapi justru karena judulnya tersebutlah, saya langsung membawa buku ini
ke meja kasir. Tidak terniat untuk saya membaca sinopsisnya dulu, ataupun
sekedar menerawang genre apa yang ditawarkan oleh Pak Noor Huda, sang
penulisnya. Sebab, saya sangat tertarik dengan satu kata ‘teroris’ itu. Terbayang-bayang
di pikiran saya, jika saya jadi teroris, teman-teman saya akan bersikap seperti
apa pada saya. Akhirnya pun saya benar-benar terhanyut di dalam kisah nyata
yang paparkan penulis pada karyanya ini. Masih ingat bom Bali? Ya, ini menceritakan
tentang salah satu dari tersangka yang terlibat dalam peristiwa itu. Selain
Amrozi, Imam Samudera, dan Ali Gufron, terdapat pula Mubarak yang divonis
penjara seumur hidup. Diceritakan pula, bagaimana persahabatan Mubarak dan
Penulis sewaktu masih mondok di pesantren yang dipimpin oleh Ustad Abdullah
Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir di Ngruki, Jawa Timur. Mereka menjalani masa
remaja sama-sama dan berakhir di jalan hidup yang berseberangan. Sungguh, saya dibuat
tenggelam dalam buku ini hingga sekarang.
3. Jangan Tulis Kami Teroris, Karya: Linda Christanty - Penerbit:
Kepustakaan Populer Gramedia
Buku ini tidak sengaja saya
temukan di penjaja koran pingiran Rex kota Banda Aceh. Saya yang niatnya hanya untuk
membeli permen, enggak tahunya malah buku ini yang terbeli. Alasan saya membeli
buku ini, selain karena ada kata ‘teroris’, adalah sebab saya mengenali
penulisnya. Entah doi mengenal saya atau tidak, jelas saya tahu bagaimana peran
Kak Linda sebagai aktivis perempuan dan juga jurnalis. Sebab itulah, saya
penasaran, ada apa dengan teroris bagi Kak Linda ini? Cukup mengangumkan saya,
buku ini menguak perjalanan jurnalisme-nya di wilayah-wilayah konflik. Bukan
hanya di Aceh saja, bahkan sampai ke Malaysia, Vietnam, Thailand dan Kamboja. Tentang
rezim Orde Baru pun ikut dibahas. Terlalu betahnya saya dengan buku ini,
membuat saya sering membacanya hingga berulangkali, sebelum akhirnya buku ini tertinggal
di Aceh.
4. Jalur Gaza, Karya: Trias Kuncahyono - Penerbit: Kompas
Penulis adalah seorang
jurnalis yang pernah bertugas di negeri para nabi tersebut. Bukan saya namanya,
jika tidak tertarik dengan buku ini. Secara, pantang bagi saya untuk
mengabaikan apa saja yang berbau Palestina. Demikian juga buku ini, tentang
pengusiran, pembantaian, hingga penghapus etnis di sana. Secara detail pula,
penulis sukses menjelaskan pokok permasalahan di tanah para Syuhada tersebut.
Mulai dari Intifada, tanah terjanjikan, politik dan agama. Semua dirangkum
sempurna di buku ini. Walaupun setelahnya saya menemukan lebih banyak dan rinci
lagi tentang Palestina di buku lain, tapi buku ini yang paling saya ingat. Sampai
sekarang juga, jika menulis tentang Palestina secara dasar, saya memilih buku
ini sebagai panduan. Sebab selain penyajiannya yang jelas, penulis nampilkan
pandangannya secara umum.
5. Ayat-ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy - Penerbit:
Republika
Tidak lengkap rasanya jika
saya tak mencatumkan novel fenomenal ini. Sejarahnya juga, novel karya Kang
Abib ini adalah awal dari semua buku-buku tebal yang pernah saya baca. Seperti yang
pernah katakan di atas, di rumah saya hanya ada buku-buku berbahasa Arab milik
ibu saya dan tentang hobi ayah saya. Jadi semasa kecil hingga remaja, saya
tidak pernah membaca novel, apalagi tentang cinta. Buku ini tiba-tiba saja ada
di meja baca rumah saya, tidak jelas asal usulnya, dan entah siapa pemiliknya. Saya
mengakhiri buku ini sampai berhari-hari hingga berminggu-minggu malah. Dan
titik akhir buku ini saya temukan ketika perjalanan dari Lhokseumawe ke Banda
Aceh. Nahasnya, buku ini tertinggal di rumah saya yang di Kelurahan Mulia yang kemudian
dilibas dasyat oleh gelombang tsunami.
6. Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat, Karya: James Marcus
Bach - Penerbit: Kaifa
Nah, untuk buku satu ini! Tidak
mungkin saya lupa! Sudah berkali-kali hilang digarong maling, kesekiankalinya
pula saya membelinya lagi. Sebab buku inilah yang membuat saya tidak
melanjutkan kuliah lagi. Mr Bach sukses mendoktrin pikiran saya, menyadarkan
bahwa lapak yang bernama sekolah itu bukan tempat yang tepat bagi saya. Dia
menyuruh saya untuk meninggalkan sekolah jika tempat itu membuat saya tidak
betah. Kebetulan, saya juga sudah jenuh dengan kampus saya tidak pernah tetap
tiap tahunnya. Maka ketika saya menyodorkan CV saya pada sebuah perusahaan penerbit
di Bandung, sang HRD terbelalak melihat list kampus yang pernah saya tongkrongi.
Oke! Baiklah, buku ini menceritakan tentang sosok Mr Bach yang drop out dari
SMA dan sukses menjadi manajer di perusahaan Apple Computer, pembicara, pengajar
di laboratorium dan universitas top di berbagai negara. Sedangkan saya.. ya
nantilah! Terpenting optimis saja dulu.
7. Samudera Pasai, Karya: Putra Gara - Penerbit: Hikmah
Buku di list terakhir ini
adalah karya salah satu senior saya di dunia literasi sastra. Melalui novel sejarah
ini, saya belajar bermain dan menikmati diksi. Karya sastra yang mendalam pada
novel ini cukup mengajari saya bagaimana menyusun kata-kata yang diterangkan
secara indah. Bukan hanya dalam menulis cerita, puisi juga saya banyak belajar
pada penulis buku ini. Sebenarnya pun, secara kebetulan juga saya bertemu
dengan Bang Putra di sebuah komunitas puisi Asia Tenggara. Kala itu memang tanpa
sengaja, kami terlibat dalam satu proyek buku puisi. Ya, tapi bukan karenanya
pula saya mencantum bukunya di sini. Sebab saya lebih dulu membaca buku novel
Samudera Pasai ini, daripada penulisnya sendiri. Sebelum berguru padanya, saya
lebih dulu belajar pada karyanya. Hebat memang, makanya buku ini masih saja
bawa hingga ke sini.
Bandung, 04 Febuari 2014





bacaannya kebanyakan buku konflik ya Nazri. hehehe
ReplyDeletedari sekian byk itu penasaran dg buku Linda Christanty. kepingin tau pandangan dia gmana ttng teroris.
Hahaha, sebenarnya banyak bang, tapi cuma itu yang paling nazri ingat isinya.
Deletebuku kak linda bukan tentang teroris bang, itu cuma judulnya aja.
ceritanya gini, dia pergi ke pesantren yang kebetulan persantrennya pas di belakang pesantren nazri dulu.
sebab di sana santrinya radikal gitu, yang sering larang-larang konser dan kebetulan kak linda pas itu datang pake jilbabnya cuma kerudung gitu aja, jadi dia disuruh pulang lagi.
nah, pas mereka mau pulang, diteriakin sama anak-anak pesantren itu, "Jangan Tulis Kami Teroris!"
udah cuma segitu kisah tentang teroris, selebihnya yang cerita perjalanan dia di tempat-tempat lain..
Tapi dari buku dia ini, kita bisa tau gimana konflik-konflik yang pernah dia datangi. Walaupun ada yang cukup nazri nggak setuju sama isi bukunya.
Bukumu manly banget...tapiiii ehhh tapiii ternyata dirimu punya sisi melankolis. Tiba2 nongol ayat2 cinta dan la tahzan di deretan buku2 yg manly tadi xiixixiixix...meutuahhhh
ReplyDeleteHah? memangnya bacaan ngaruh ke sifat ya kak? :-s
Deletehahahaha setuju ma Kak Aida, mendadak lembut.
ReplyDeletete o pe, buku-bukunya mantraaaaap.
Hahaha.. kalau bacaannya yang teroris gitu terus, bisa disangka teroris beneran bang. Makanya ada satu buku yang paling menarik bagi saya, tapi tidak saya cantum. buku karya imam samudera, sebab banyak yang tersangka teroris pas digeledak rata-rata nyimpan buku itu, saya akhirnya pun ikut was-was sendiri. :-d
Deletewoaaa...bukunya berbau 'militan' semua, hahaa.. kecuali Ayat-Ayat cinta. Jarang lihat cowok memasukkan Ayat-ayat cinta sebagai buku yang berkesan buatnya, xixixiii...
ReplyDeletehahaha, padaha saya juga suka baca buku-bukunya teenlit.. :-d
Deletesemoga bacaan yang 'keras' tidak mengeraskan karakter pembacanya hahahahahah #apa pulak ini
ReplyDeleteyaa apa pula, ya kan? padahal kita disuruh baca apa saja yang bisa dibaca.. :-d
DeleteSebenarnya kemarin pas mau cantumin 7 buku favorit, hampir juga masukin cerita2 tentang Timteng. Tapi ada bagian yang lupa. Mau baca lagi, isinya agak berat untuk direview. Haha.
ReplyDeleteTapi boleh juga tu buku Jalur Gaza. Apalagi dari pandangan jurnalis. Uda baca tentang Palestina punya Trias? Sesekali boleh ko baca tu buku. Ada dua bukunya, Jerusalem & Jerusalem 33. Sudut pandang jurnalis juga. Atau uda baca 'Jalan-Jalan di Palestina'? Itu juga bagus jadiin referensi kita ttg konflik Timteng.
Nice review yi! (h)
Wah aku belom sempat baca way, tapi kalau sudut pandang jurnalis udah.. eh, ada sebiji lagi yang aku suka soal Palestina, judulnya "kenapa palestina?", lupa aku penulisnya siapa, tapi di buku lebih ke tentang perempuan-perempuan di sana..
DeleteLaa Tahzan, suka sekali. Ayat-ayat Cinta juga. Ketika Cinta Bertasbih juga. Yang terakhir ini sampai-sampai membuat dosen saya mengira jadi alasan terlambat menyelesaikan kuliah ... :-)
ReplyDeleteWah, kalau karya Kang Abib, menurut saya yang paling keren itu: Pudarnya Pesona Cleopatra. Belom ada obat sampe sekarang, tapi lupa pula saya pasang list ini..
DeleteLa Tahzan the best lah :D
ReplyDeleteSelamat malam, Mas Nazri. Saya ingin bertanya mungkin Mas Nazri tau, hehe. Saya pernah membaca sebuah buku mengenai kisah-kisah nyata para Syuhada di Palestina. Di buku itu ada kisah tentang Yahya Ayyash, Ayat Akhras, Abdul Aziz, dsb. Mungkin Mas Nazri pernah membacanya? Namun, saya lupa dengan judulnya, terima kasih sebelumnya. Salam perjuangan. :)
ReplyDeleteLoh, ada ya buku samudra pasai :D
ReplyDelete